Selasa, 25 Maret 2014

MH370 Tersesat?

 Sabtu petang, 22 Maret 2014, konferensi pers harian Menteri Pertahanan Malaysia sekaligus Plt Menteri Transportasi,  Hishammuddin Hussein terkait perkembangan pencarian MH370, diinterupsi di tengah jalan. Pak Menteri menerima selembar kertas berisi informasi penting: satelit China, Gaofen-1, menemukan objek berukuran 22,5 x 13 meter yang diduga terkait dengan pencarian kapal terbang yang hilang. Ia menjadi orang pertama yang mengumumkannya pada dunia.
Lokasi sejumlah objek mencurigakan berada di sepanjang koridor selatan yang diduga dilalui Malaysia Airlines MH370. Temuan anyar itu berjarak 120 km dari temuan dua objek --yang terbesar sepanjang 24 meter -- yang ditangkap satelit WorldView-2 milik perusahaan asal Colorado, AS DigitalGlobe pada 16 Maret 2014.

Perdana Menteri Australia, Tony Abbott menganggap temuan China ‘makin memperkuat harapan’. Namun, orang nomor satu di Negeri Kanguru itu cepat-cepat menambahkan, tugas untuk menentukan lokasi obyek tersebut sangat sulit. Bisa jadi itu ternyata tak terkait dengan pencarian MH370. “Mungkin itu hanya kontainer yang jatuh dari kapal,” kata Abbott di sela kunjungannya di Papua Nugini. “Kita sama sekali tak tahu.”

Jumat hingga Sabtu lalu, pesawat, armada laut, dan kapal niaga yang dikirim ke lokasi pulang dengan tangan hampa. Tak menemukan apapun.  Faktor cuaca jadi hambatan. Topan Gillian yang kini berada di Pulau Christmas bisa membesar hingga area pencarian. Benda yang ditangkap satelit bisa jadi sudah tersapu arus atau karam di kedalaman hingga 5 kilometer di dasar laut.

Peter Marosszeky, ahli penerbangan dari University of New South Wales mengatakan, objek tersebut bisa jadi adalah sayap. Bagian pesawat itu bisa tetap terapung selama berminggu-minggu. Asalkan tangki bahan bakar dalam kondisi kosong dan tidak dimasuki air.


Sementara, mantan direktur penyelidikan Badan Administrasi Penerbangan AS atau US Federal Aviation Administration, Steve Wallace mengatakan, potongan puing-puing ringan, seperti jaket dan bantal kursi , bisa timbul dan mengapung selama berhari-hari setelah pesawat jatuh ke air.

Masalahnya, lautan kita penuh dengan sampah, secara harfiah. Masih mending mencari jarum di tumpukan jerami. “Ini mencari satu jarum di pabrik jarum,” kata ilmuwan senior Conservation International M. Sanjayan seperti dimuat CNN. Pasti sulit mencari puing MH370 di antara miliaran sampah.

Namun, secercah harap muncul kembali pada Minggu 23 Maret 2014. PM Australia mengatakan, pesawat pencari melihat puing-puing tak dikenal, termasuk palet kayu di situs pencarian di Samudera Hindia.  “Namun, masih terlalu dini untuk memastikannya (sebagai MH370),” kata PM Abbott.

Di hari yang sama,giliran satelit Prancis yang menangkap objek potensial diduga puing-puing pesawat Malaysia Airlines MH370 di Samudera Hindia. Klop dengan dua temuan sebelumnya. “Malaysia menerima gambar satelit terbaru dari Prancis. Gambar tersebut merupakan objek potensial di Koridor Selatan,” demikian pernyataan Kementerian Transportasi Malaysia, seperti dimuat Reuters, Minggu petang.

Menjadi ‘Zombie’?
“All right, good night” … kata-kata penghabisan dari MH370 ternyata tak berdiri sendiri. Belakangan terungkap dugaan komunikasi 54 menit terakhir dengan kapal terbang yang dipiloti Zaharie Ahmad Shah (53) dan kopilot Fariq Abdul Hamid (27). Dari pukul 00.36 sampai 01.19, Sabtu 8 Maret 2014.
Sebuah komunikasi rutin antara pengendali lalu lintas udara (ATC) dengan pilot. Pihak Malaysia menyebut, data itu tak valid. Tapi, mungkin ada petunjuk di sana…

Pada 20 menit pertama, pembicaraan berlangsung normal. ATC memberikan izin pada pesawat untuk naik ke ketinggian jelajah 25.000 kaki dan kemudian 35.000 kaki.

Berdasarkan transkrip yang diungkap Telegraph, ada kejanggalan pada pukul 01.07. Saat seseorang di kokpit mengatakan, “MH370 remaining in flight altitude 350.” Bahwa MH370 masih berada di ketinggian 35 ribu kaki – informasi yang tak perlu disampaikan karena telah diucapkan 6 menit sebelumnya. Sama persis. 


Mantan pilot  British Airways , Stephen Buzdygan mengatakan, bisa jadi itu adalah pesan tersirat bahwa ada yang tak biasa dengan pesawat: disabotase atau dibajak. Lalu kapal terbang itu dibelokkan ke barat. Meski suara yang diduga sang kopilot terdengar tenang. Sama sekali tak panik, tak ada keributan di kokpit.

Pendapat berbeda diutarakan pengamat penerbangan Clive Irving seperti dimuat di situs The Daily Beast. Bisa jadi setelah pembicaraan itu, ada kejadian darurat yang mengakibatkan kerusakan pusat elektronik MH370. ‘Otak’ pesawat telah mati, tapi tidak pada fisiknya.

“Secara fisik ia mampu terbang selama berjam-jam dengan autopilot sampai kehabisan bahan bakar," tulis Irving, seperti Liputan6.com kutip dari Daily Beast. Menjadi pesawat ‘zombie’.

’Zombie’ atau istilah yang lebih dikenal dengan ‘pesawat hantu’ merujuk pada kondisi pesawat  di mana semua orang di dalamnya -- pilot, kru, dan dan penumpang -- hilang kesadaran atau meninggal dunia karena hilangnya tekanan udara, ledakan, asap, atau uap beracun.

Jika dugaan ini benar, pesawat Malaysia itu bisa jadi mengalami insiden yang membuat semua orang di dalamnya tak sadar, lalu terus terbang secara autopilot hingga kehabisan bahan bakar.

Sejarah mencatat, insiden serupa pernah terjadi sebelumnya. Meski jarang. Salah satunya, pada 1999 lalu, sebuah jet Lear carteran yang membawa pegolf profesional Payne Stewart dan 4 orang lainnya jatuh di sebuah lapangan South Dakota -- setelah terbang sendiri selama empat jam. Pesawat itu terus mengudara sementara semua manusia yang ada di sana telah kehilangan nyawa. Setelah kehabisan bahan bakar ia lalu jatuh .

“Bisa jadi pada beberapa menit pertama dalam kondisi darurat, pilot mengubah arah untuk mencari bandara darurat,” demikian analisa Clive Irving terkait penerbangan MH370.  Dan lokasi Samudera Hindia cocok dengan perhitungan daya jelajah MH370, berdasarkan perkiraan bahan bakar yang tersisa.
Terbakar atau Meledak?
Hipotesis itu didukung dengan terkuaknya muatan kargo MH370 berupa baterai lithium-ion. Hal itu diakui CEO Malaysia Airlines Ahmad Jauhari Yahya, meski tak merinci jumlahnya.
Baterai Lithium-ion yang biasa digunakan dalam laptop dan ponsel, diketahui bisa meledak, meski itu jarang terjadi. Pada tahun 2010, kecelakaan fatal menimpa pesawat kargo UPS di Dubai. Lithium-ion yang digunakan untuk komponen daya pada Boeing 787 dianggap sebagai pemicu kebakaran di kapal terbang itu.
Namun, kata Ahmad, pihaknya kerap mengangkut kargo sejenis. “Itu tidak dianggap sebagai barang berbahaya ... dan dikemas seperti yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional,” kata si Bos. Lagipula bukan baterei besar, tambah dia, kecil-kecil.

Namun, bagian keamanan dan keselamatan U S Federal Aviation Administration dalam situsnya mengatakan, baterai lithium-ion  yang diproduksi di Malaysia, Taiwan, dan Jepang “mudah terbakar dan dalam kondisi panas bisa melepaskan energi yang tersimpan di dalamnya.”


Soal dugaan pesawat celaka di langit juga diungkap Presiden RI ke-3 BJ Habibie yang ngerti betul soal kapal terbang. Ia yakin MH370 meledak di udara di atas ketinggian 33 ribu kaki dari permukaan laut. Penyebabnya mungkin karena kebocoran tangki bahan bakar di sayap pesawat. “Saya tidak bisa katakan apakah disebabkan dari sayap atau mesin pesawat karena kasihan pada pihak yang membuat komponen tersebut,” ujar Habibie.

Sementara, Presiden Direktur CSE Aviation, sebuah perusahaan konsultan penerbangan, Edwin Soedarmo bahkan menilai kasus hilangnya MH370 ini sebagai “special case”, kasus istimewa.

"Dalam era modern ini, kalau deteksi puing mudah, tapi kalau 13 hari ditelan bumi padahal pencarian dibantu 26 negara, ini memang special case," kata Edwin saat diwawancara Liputan6.com, Kamis 20 Maret 2014.

Anehnya lagi, kenapa sampai MH370 yang seharusnya menempuh rute KL-Beijing bisa tersesat ke Australia.  “Yang lucu juga, itu mau ke Beijing tapi bisa ada sisa-sisa di Perth. Ini 1.001 macam kemungkinan,” kata dia. “Kalau dikuasai pembajak mestinya sudah minta ini sesuatu, pokoknya ini lucu. Hilang ditelan Bumi.”

Investigator senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Mardjono berpendapat, dari sejumlah dugaan, yang paling mungkin adalah pesawat dibelokkan ke luar jalur oleh orang yang mengerti cara menerbangkannya. Dugaan itu diperkuat fakta bahwa pesawat terlacak terbang setelah dinyatakan hilang kontak. “Diotak-atik orang yang ngerti cara menerbangkan pesawat itu. Bukan rusak (pesawatnya). Kalau rusak terbangnya nggak seperti itu, pasti belok-belok terbangnya,” tegas dia.

Yang jelas, raibnya MH370, bukan salah Indonesia – tak seperti tuduhan yang dimuat Utusan Malaysia yang mengutip situs konspirasi, Cabal Times. Disebut MH370 terbang ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Pulau Diego Gracia di Samudera Hindia. Katanya, radar Indonesia sudah pasti mengetahui keberadaan pesawat tersebut. Namun karena memiliki perjanjian kerja sama rahasia dengan AS, memilih diam.
Apa yang sesungguhnya terjadi pada MH370? Misteri itu bisa dijawab lewat kotak hitam dan perekam suara kokpit dan cockpit voice recorder (CVR). Tapi, tak mudah mendapatkannya. Bahkan jika puing telah ditemukan.

Fakta ini mungkin bisa jadi rujukan: pada 1 Juni 2009, Air France AF447 hilang saat mengudara dari Rio de Janeiro di Brasil ke Paris, Prancis. Puing A330 Airbus ditemukan mengambang di permukaan Atlantik 5 hari kemudian. Segala upaya dilakukan untuk menemukan bangkai pesawat, tapi sia-sia.

Butuh dua tahun untuk menemukan dan mengangkat bagian terbesar pesawat dan 104 jasad di dalamnya pada Mei 2011. Pencarian AF447 makan proses panjang. Salah satunya dengan melibatkan para ahli matematika.
Bagaimana metode matematika bisa menemukan pesawat yang hilang? Otoritas investigasi kecelakaan penerbangan Prancis, BEA, mengumpulkan sekelompok ahli statistik di AS yang memiliki keahlian dalam mencari benda yang hilang di laut. Analis Senior Colleen Keller lalu terbang ke Prancis untuk membantu.

Keller dan timnya dari Metron Inc di Virginia menggunakan Teorema Bayes, yang dicetuskan pendeta sekaligus matematikawan dari Abad ke-18, Thomas Bayes. Dalam tulisannya yang diterbitkan tahun 1763 -- 3 tahun setelah kematiannya, Bayes memperkenalkan sebuah versi dari persamaan beberapa probabilitas. Persamaan sederhana ini bisa memecahkan banyak permasalahan dalam teori peluang. Perkiraan probabilitas Bayesian hingga kini digunakan di seluruh dunia, dibuat dalam versi perangkat lunak, untuk memperkirakan apapun termasuk pasar uang dan cuaca.


Dalam kasus Air France, para ahli yakin bahwa pesawat jatuh dalam jarak 40 mil dari radius lokasi terakhir ‘ping’. Peta probabilitas yang dibuat Keller merujuk pada lokasi yang lebih sempit. Tim pencari pun dikerahkan. Namun gagal. Apakah itu berarti statistik tak ada gunanya? Tunggu dulu!

Beberapa bulan kemudian, Keller dan timnya mengubah salah satu asumsi mereka, dan memasukkan data historis yang menunjukkan bahwa setelah terjadi kecelakaan, kotak hitam akan memancarkan sinyal --setidaknya dalam 90 % kasus kecelakaan. Sinyal tak ditangkap tim pencari. Maka disimpulkan, pesawat tak ada di area itu.

Kemudian, para ahli dari Metron mengadaptasi model mereka ke skrenario lain -- yang lalu menghasilkan probablilitas tertinggi. Sekali lagi, tim SAR dikirim -- kali ini mereka menemukan bangkai kapal terbang.
Misteri kecelakaan AF447 pun berakhir. Kotak hitam dan VCR menunjukkan pilot salah membaca kecepatan, keliru merespons, dan kehilangan kendali atas pesawat.

“Seperti sebuah keajaiban bisa menemukannya. Untungnya puing berada di area berpasir di dasar laut. Ada beberapa wilayah Samudera yang seperti Himalaya -- dalam terminologi gunung, tebing, dan lembah,” kata Keller seperti dikutip dari BBC.

Jika sampai terjebak ke 3 wilayah itu, ”Mungkin AF 447 tak pernah bisa ditemukan,” kata ilmuwan perempuan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan nasib MH370? Keller tak bisa memastikan pesawat itu bisa ditemukan. “Orang bertanya-tanya, bagaimana bisa sebuah Boeing 777 menghilang begitu saja. Tapi, jika benar tak ada petunjuk, mungkin ia berada di dasar Samudera Hindia dan kita tak akan menemukannya.”

Dengan asumsi bahwa MH370 jatuh, akan lebih baik jika bagian pesawat lebih cepat ditemukan. “Jika ditemukan lebih cepat puing itu akan memberi kita petunjuk di mana badan pesawat berada,” kata Keller. “Namun, sudah terlampau lama sejak kapal terbang itu diduga celaka. Aku tak merasa keberadaan puing -- jika ditemukan -- bakal banyak membantu.”


Kesulitan menemukan MH370, Menhan Malaysia Hishammuddin Hussein mengangkat telepon. Bukan menghubungi paranormal, melainkan markas Departemen Pertahanan AS di Pentagon. Bicara dengan Menhan AS Chuck Hagel.

“Meminta agar AS mempertimbangkan menyediakan beberapa peralatan pencari bawah laut,” kata juru bicara Pentagon Laksamana John Kirby.

Malaysia meminjam alat yang dikenal dengan sebutan “pinger locator hydrophone”. Angkatan Laut AS diketahui memiliki sistem yang disebut “Towed Pinger Locator”, sebuah alat pendengar bawah air yang ditarik di belakang kapal. Biasa digunakan Angkatan Laut untuk mencari pesawat komersial jatuh, karena bisa mendeteksi sinyal pada kedalaman hingga 20.000 kaki (6.000 meter). Demikian seperti diuraikan dalam situs Angkatan Laut AS.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tak mau ketinggalan. Pemimpinnya, Charles Bolden mengatakan, pihaknya akan memanen data dari satelit untuk mendapatkan gambar terbaru yang mungkin bisa membantu pencarian.

Ke mana dan bagaimana pencarian dilakukan, yang paling tersiksa batinnya adalah keluarga korban. Seperti yang dirasakan Wang Zheng. Kesabarannya nyaris habis.

“Tantangan terbesar adalah mengatasi gejolak emosi yang sudah saya alami. Tak bisa makan, tak bisa tidur. Saya memimpikan kedua orang tua saya setiap hari,” kata dia seperti dimuat The Globe and Mail. Ayahnya, Wang Xiong Linshi dan sang ibu, Yunmin adalah penumpang MH370.

Dalam pertemuan dengan para pejabat Malaysia Jumat lalu, anggota keluarga korban meluapkan kemarahannya. Sampai-sampai para petinggi negeri jiran harus dievakuasi polisi. “Kami merasa dikumpulkan, dikurung dalam kegelapan, dan dibohongi oleh pemerintah Malaysia,” kata salah satu dari mereka.


(Elin Yunita Kristanti)



0 komentar: